Karya Rismawati
MIMPI Win terhenti bersamaan dengan runtuhnya dinding gunung berbatu pada pendakian menuju Ise-ise. Benturan keras sisi mobil L300 membuat kaca pecah dan melukai bahu kanannya. Dalam kabut gelap itu darah segar memandikan Win. Rumah sakit daerah dan puskesmas sudah jauh tertinggal di Blangkejeren dan tidak seorang pun mengerti apa yang harus dilakukan dengan perjalanan ini.Melanjutkan dan berbalik sama jauhnya dan sama sulitnya pendakiannya. Hujan dan gemuruh tiada henti-hentinya.
Seorang lelaki setengah baya berpayung daun pisang, berjaket kulit warna coklat kehitaman, sehelai sarung di bahunya dan sebilah parang menggantung di pinggang. Dia mendekat. “Rumah saya dekat sini. Ayo ikut saya. Kalian bisa istirahat. Agaknya perjalanan ini harus berhenti sejenak.”
Sopir mobil mengajak semua penumpang berteduh mengikuti ajakan lelaki itu.
Sebuah gubuk yang beratapkan ijuk di tengah perkebunan tembakau dan kopi. Win dibaringkan, dan darahnya masih bercucuran. Pemilik gubuk dengan gesitnya memetik beberapa helai daun tembakau, mencampurnya dengan sedikit rempah dan menggilingnya. Sekilas terdengar suara, mulut bapak itu komat-kamit, “Bismillahirrahmanirrahim pedong darah timul kasih patah kunyit pulo dikah putih tuhur berkat lailahaillallah huuuuh…!!!, kunyahan sirih disemburkan di bagian yang terluka.
“Tahan ya, mungkin akan sedikit perih,” kata si bapak. Gilingan daun tembakau ditempelkannya ke bahu Win. “Ama! Ine!” rintih Win kesakitan. Dua orang tua yang dia tinggalkan itu tak kunjung menghampirinya lagi, laksana pancaran matahari yang lembut di negeri jauh. Hawa sejuk dan dingin ini benar-benar telah membunuh asanya bersamaan dengan sayatan kaca di lengan kanannya.
Sejenak, mata Win berbinar, sepertinya banyak hal yang dia ingat dan ia sesalkan. Win mengingat dirinya seorang penari saman yang ulung. Win satu-satunya orang yang mampu membius banyak penonton dengan suara merdu dan gerakan seribu tangannya, lihai dan cepat. Dia tidak mudah menyerah, ada cita yang kokoh telah dia bangun dalam hati.
“Aku ingin mencicipi asinnya air laut, menari saman di tepian laut, suara syair akan mendayu bersamaan hembusan angin. Di sana di depan puluhan ribu orang yang berwisata bahkan hingga ke penjuru dunia karena saman telah menjadi warisan dunia yang mendarah daging dalam diriku.”
Namun, sejenak dia berpikir lagi “Adakah orang bersaman di tepi laut (pantai) seperti aku yang bisa bersaman di mana saja, di kebun, di gunung dan di pematang sawah. Di tengah laut? atau? ah, seperti apakah laut itu? benarkah kata orang airnya asin, bagaimana aku bisa percaya, kalau ratusan bahkan puluhan ribu orang di kampung kami belum pernah merasakan asinnya air laut itu.”
Dalam Win melamun, dia dikejutkan oleh suara Ama. Tiba-tiba saja Ama duduk mendekati Win dan Ama mengajak Win bercerita tentang seberu sedang penari bines di desa itu.
“Win, apa yang ko pikirkan nakku, tidak keko lihat itu anak Aman Pina itu cantik, bodinya aduhai, anak Aman Meriyem itu cantik juga, eh tapi dia bukan hanya cantik alim dan pintar memasak. Ko boleh pilih yang mana yang memikat hatimu Win, dan Ama akan ajarkan Ko mantranya supaya semua gadis tergila-gila padamu, terklepar-klepar setelah ko tiupkan padanya angin cintamu. User-user batang selasih tertutup ate si guser terbuke ate si kasih. Itulah indahnya menjadi penari saman, Win. Makanya, seperti ko lihat syeh penari saman di kampung kita istrinya selalu lebih dari satu. Anggap aja itu, bonus Win.” Mendengar cerita Ama, Win diam saja. Tak ada yang menarik perhatian Win sampai cerita Ama usai.
“Ama, maafkan aku. Bolehke aku kuliah ke Banda, apa Ama punya uang? Kalau tidak Ama pinjamkanlah dulu ke ibi, pun, atau ujang, cukup-cukup ongkosku saja, Ama. Untuk pertama ini. Aku yakin, aku bisa menghidupi diriku sendiri di sana.”
“Yoh, lain Ama ceritakan lain pula yang ko jawab. Ko tidak ke sayang sama Amamu ini?”
“Sayang lah aku sama Ama, tapi apa Ama sayang sama aku. Anak Win Ama ini satu-satunya. Mmmh… bukan itu maksudku Ama, aku hanya ingin mengajarkan tari saman pada semua orang, dan itu bisa kulakukan dengan mulus jika aku menjadi guru seni. Aku ingin kuliah. Terlebih lagi aku ingin…”
“Kenapa ko hentikan ucapanmu Win, adakah yang ko inginkan lebih dari itu,” guratan sedih mulai tampak di mata Ama.
Win ragu, melanjutkan ucapannya, dia merasa konyol sekali saat itu jika harus menyampaikan keinginannya pada Ama. “Mmmmh. Ah sudah lah Ama lupakan saja”
“Katakanlah Win, Jangan Buat Ama penasaran,” paksa Ama.”Aku ingin melihat laut, Ama. Benarkah air laut itu asin, Ama? dan sepertinya menari saman di tepi laut asik sekali.”
“Hahahaha…Win, Win,” ama mencoba mentertawai Win, yang sebenarnya tawa itu kecut.
“Kenapa Ama tertawa, Ama sudah janji tidak tertawa tadi. Apa aku salah Ama? seumur hidup kita belum pernah melihat laut, bukan hanya aku tapi Ama juga, ine juga, nenek, kakek dan seluruh orang di Gayo mungkin belum pernah melihat laut, kita hanya tahu gunung-gunung-gunung, begitu kan Ama.”
“Ko harus bangga Win Gunung Louser itu milik kita, Win. Coba ko pergi ke gunung itu Win, puluhan dan ratusan bunga tumbuh liar di sana, indah sekali, ko bisa rayu seberu sedang dengan bunga itu. Untuk apa melihat laut..hahah..”
“Ama berhentilah menertawaiku, kalau Ama anggap ini konyol, baiklah Aku tidak akan pergi untuk itu. Aku ingin kuliah Ama, supaya bisa mengajarkan tari saman. Dimana-mana telah di buka kampus kesenian Ama, termasuk di Banda akan di buka kampus seni tapi guru-guru dan dosen-dosen kesenian itu tidak bisa menari saman. Apa Ama pikir cita-citaku ini konyol lagi.”
“Sekarang pun ko bisa mengajar tari saman jika ko mau, Win,” jawab Ama singkat.
“Tapi tidak diakui oleh siapapun, tidak ada gelar, S.Sn., S.Pd. M.Sn. M.Pd. Kalau hanya di elu-elukan seberu desa apalah gunanya Ama.”
“Tapi Ama tidak mau ko pergi, Ko tega melihat Ama sendirian di rumah ini?” Suara ama meninggi mengharap anaknya patuh. “Jangan Ama ulang cerita Ama padaku. Jika sampai saat ini pun Ama tidak bisa membawa ine pulang ke rumah ini,” lawan Win. Sepertinya Win betul marah, menyebut-nyebut ine itu cukup memukul ama. Sedangkan ama tidak ingin menyakiti Win lagi sehingga tanpa jawaban ama meninggalkan Win begitu saja. Sebenarnya bukan hanya terpaut oleh biaya, tapi sejak kepergian ine, ama hanya punya Win satu-satunya. Ama tidak akan pernah ikhlas jika Win harus pergi tapi ama tidak pernah mengungkapkan itu pada Win.
Akhir-akhir ini Win banyak mendapat panggilan menari saman dengan timnya. Win penuhi semua undangan itu. Kemahirannya pun semakin bertambah-tambah begitu pun kepopulerannya. Setiap orang yang melihatnya menari saman akan mengelu-elukannya mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, sampai menjadi ujung lidah di kalangan gadis-gadis remaja. sampai-sampai tidak ada orang yang tidak mengenalnya.
Win berjalan gontai, di antara bunga yang berwarna orange dan merah muda, sekawanan kupu-kupu kuning bercumbu memeriahkan dahaga di kiri-kana jalan yang lembab oleh embun pagi, inilah keadaan kampung kami, kampung di bawah kaki Louser. Win menatap jauh hingga ke pucuk gunung-gunung yang memutih. Inilah pertanda kemiri sedang musim bunga, artinya butuh waktu lama untuk menunggu musim panen hingga Win punya cukup biaya.
Win termenung sesaat menyadari indahnya desanya meski tak seperti negeri sakura yang bersalju dan tak seindah negara Inggris tapi ini sudah menjadi pemandangan biasa bagi Win. Saat ini Win hanya ingin melihat laut meskipun di kampung ini punya hujan batu dengan kristal-kristal es dan bunga edelweis sebagai pelengkap keindahan. Tapi cita-cita Win terbelenggu di sini. Dalam negeri yang bulat di kelilingi bukit tusam serupa kuali. mungkin bukan hanya Win tapi puluhan dan ratusan remaja Gayo lainnya.
Orang-orang menyebut kampung kami dengan sebutan negeri Seribu Bukit, negeri di atas angin, di bawah kaki Louser. Win hanya meneriakkan kegelisahannya dalam bait-bait syair samannya memecah kesunyian hingga ke pucuk-pucuk tusam. Ama boleh saja membelenggu cita-citanya tapi tidak akan ada satu orang pun yang bisa membelenggu tubuh Win dan mulut Win berhenti menari saman. Yang Win sadari bahwa dia tidak boleh berhenti sampai di sini.
Dikala musim panen kemiri itu tiba, Win mengutip buah-buah kemiri tua yang telah rontok. Dia hendak mengumpulkan sebanyak-banyaknya supaya cukup uang untuk berangkat ke Banda. Win tidak lagi memintai ijin ayahnya, karena saat ini dia berpikir Amanya adalah manusia paling egois yang membelenggu cita-citanya.
Di bawah sinar matahari senja kala itu, udara mulai berhembus dingin. Win berkemas-kemas, hanya tas ransel dan ijazah SMA yang ia siapkan. Win hendak pergi. Ama hanya menatapnya dari balik jendela rumah. Ama tidak ingin menghalangi Win, walaupun sadar dia merasa berat melepaskan Win. Win pun tidak ingin mengingat-ingat banyak hal, dia tidak ingin mengingat keegoisan amanya yang membuat ine pergi dari rumah, dan kini membelenggu cita-citanya. Win tidak ingin pula mengingat inenya yang egois yang rela meninggalkannya. Di antara kegelisahannya, Win hanya ingin bersuka cita menyambut cita-citanya yang sesaat lagi akan dia tempuh dan dijalaninya sendiri, kuliah di jurusan seni dan nantinya akan mengajarkan tarian saman pada semua orang.
L300 mengepulkan asap di halaman rumah dan melaju dengan perlahan. Satu persatu bukit-bukit dan likuan jalan di lewati. Sepanjang perjalanan satu-satu barisan tusam mulai mengecil dan hilang ditelan kabut. Win hanya memejamkan matanya, membayangkan hanya dalam hitungan jam dia telah sampai di Banda dan akan melihat laut. Win akan mencicipinya, benarkah asin seperti kata orang-orang. Sesekali Win meneguk teh botol yang dibelinya di terminal tadi. Win tertidur dalam bayang dan angan-angannya, dia seperti menyesalkan sikap amanya, sikap Inenya, dan saat ini sikapnya pula yang pergi tanpa berpamit pada ama dan ine. Di luar terlihat kabut semakin menebal. Gerimis mulai turun dan semakin lama semakin deras, membuat suasana semakin sejuk dan menghantarkan Win tertidur pulas.
Dtuarrrrdddrrr. semua orang yang ada dalam mobil itu dikejutkan dengan dentuman di atas mobil. Sopir sudah mengerem mobil tapi jalanan sangat licin, mobil bergerak terus dengan sendirinya. Ada arus air yang deras yang menuruni lereng gunung itu yang membuat mobil tergelincir. Dengan terpaksa perjalanan itu di hentikan dan butuh waktu lama untuk mengembalikan mobil pada keadaan semula dan berbalik lagi ke desa. Kayu-kayu tumbang menghalangi jalan dan mobil angkutan terhenti. Sejenak suasana sepi, semua penumpang ingin menyadari setiap apa pun yang terjadi begitu pula Win, namun belum pulih benar kesadaran Win yang terbangun dari tidurnya, Win merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari lengan sebelah kanannya yang sedari tadi berdempet dengan kaca. Tangan Win Patah.
* Rismawati, dosen di jurusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia, Unsyiah
Sumber: Serambi Indonesia
