Kringgg.. Kringgg.. Kringgg. Alarm terus berbunyi tiga menit yang lalu. suaranya yang keras tidak mampu untuk membangunkan seorang pemuda yang masih tidur dengan nyenyaknya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi.
“Eziii bangunnn!”
“Kamu mau pergi ke sekolah atau engga? teriak seseorang dibalik pintu kamar.
“Iya Ndaa ni udah bangun,” balas pemuda yang bernama Ezi tersebut dengan sedikit berteriak.
” Cepat bangun! lihat udah jam berapa!”
Pemuda tersebut pun melihat jam beker yang dari tadi berbunyi.
“Astaghfirullah, Bunda kok nggak bilang-bilang kalau udah jam setengah delapan sihh?” kesal pemuda tersebut dan langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
“Ckckck anak siapa sih tu?” bingung sang Bunda yang sedang membereskan tempat tidur yang sudah kayak kapal pecah.
Pemuda tersebut bernama Eziandra Sandyakala biasa dipanggil Ezi yang memiliki arti cahaya merah saat senja. Umur nya 16 tahun, ia sekolah di salah satu sekolah terbaik di provinsinya yaitu SMA 1 Nusantara. Dia anak dari pasangan Pak Jamal dan Ibu Icut, dia seorang anak tunggal.
Ezi membutuhkan waktu 10 menit untuk mandi dan memakai pakaiannya. Kini ia telah rapi dengan seragam putih abu yang melekat di tubuhnya. Kini ia menuruni tangga dengan tergesa-gesa, jam sudah menunjukkan 07.40.
“Ezi sarapan dulu!” seru Bundanya Ezi.
“Nggak dulu Nda, ini udah telat banget,” ucap Ezi sambil menyalami tangan ibunya
“Yaudah hati-hati”
“Iya Nda, Assalamu’alaikum,” pamit Ezi yang langsung menyambar kunci motornya dan pergi meninggalkan rumah.
“Waalaikumsalam,” balas Bunda Ezi sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang sering telat berangkat ke sekolah.
Ezi membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke sekolahnya. Jarak rumah Ezi dengan sekolahnya lumayan jauh. Ezi membawa motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, sampai banyak pengendara yang kesal melihatnya.
Saat sampai di sekolah pintu gerbangnya sudah ditutup dengan pasrah ia menuju pos satpam.
“Assalamu’alaikum Pak,” ucap Ezi dengan lesu.
“Waalaikumsalam,” balas Pak Satpam dengan ramah.
“Ehh Ezi rupanya, seperti biasa catat nama dan pilih sampah,” ucap Pak Satpam.
“Hemm,”
Yaps, Ezi sudah langganan telat, jadi Pak Satpam pun sudah kenal dengan Ezi. Ezi telat dari kelas X tapi sampai sekarang tidak ada perubahannya. Nama Ezi sudah terkenal dikalangan guru karena keterlambatannya. Hukuman yang dikasih pun Ezi selalu menjalankannya walaupun dengan banyak umpatan yang terus meluncur keluar dari mulutnya. Sekitar sepuluh menit Ezi mengutip sampah. Kini ia pun sedang memarkirkan motornya di tempat biasa ia dan teman-temannya parkir.
Suasana sekolah sudah cukup sepi karena semua murid berada di dalam kelas untuk mengikuti proses belajar mengajar. Sepanjang koridor Ezi bersiul-siul, letak tempat parkir dengan kelas Ezi lumayan jauh, kelas Ezi terletak di lantai dua.Ezi pun telah sampai di depan pintu kelasnya.Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengetuk pintu kelas.
Tok tok tok
“Assalamu’alaikum”, ucap Ezi.
“Waalaikumsalam,” balas teman sekelasnya dan juga guru yang sedang mengajar.
“Hehehe, maaf bu telat,” ucap Ezi cengengesan.
“Kenapa telat?!” tanya guru tersebut dengan garang.
Sekarang adalah pelajaran matematika, gurunya termasuk kedalam jajaran guru killer di SMA tersebut, Bu Ina namanya.
“A-anu… bu .… —,” belum selesai Ezi ngomong langsung dipotong sama Bu Ina.
“Anu apa HAH? Apa lagi alasan kamu, selalu telat dari kelas 10 sampai 11 nggak ada perubahan,” potong Bu Ina dengan meninggikan suaranya.
“Rumah saya jauh Bu,” alasan Ezi.
“Ya kalau jauh cepat bangunnya,” balas Bu Ina yang masih emosi dengan kelakuan Ezi.
“Iya Bu iyaaa”, jawab Ezi lesu dan menundukkan kepalanya karena tidak berani melihat mata elang bu Ina.
“Udah, sekarang duduk dibangku kamu,” perintah Bu Ina yang langsung ditiruti oleh Ezi.
Ezi pun melangkahkan kakinya menuju tempat duduk yang berada di pojok kelas.
“Baik anak-anak pelajarannya kita lanjut, buka halaman 145, kerjakan soal dari nomor 1-10 nanti kumpulkan sama ketua kelas dan taruh di meja Ibu, Ibu pamit keluar kelas duluan. “Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab siswa-siswi kelas tersebut dengan serempak.
“Jangan ada yang keluar kelas, kalau sampai Ibu lihat ada yang keluar kelas lihat saja hukumannya,” peringatan Bu Ina. Sontak siswa-siswi itu menutup rapat mulut mereka dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh sang guru.
Ezi duduk dengan sahabatnya Klandestin Bumantara, di depan Ezi ada Sahmura Bentala dan Bena Rajaswala. Mereka telah bersahabat sejak kelas VII SMP. Tidak heran mereka kemana-mana selalu bersama. Mereka dikenal di sekolah karena ketampanan dan kepintarannya, termasuk juga kenakalannya.
“Kenapa telat?” tanya Estin.
“Begadang,” jawab Ezi lesu.
Bena yang sudah hafal dengan kata-kata singkat 2 orang yang sering disebut kulkas berjalan ini pun hanya diam tanpa ada niatan untuk bertanya.
Sara mendengus kesal karena tidak paham
“Kalian berdua kalau ngomong tu jangan dikit-dikit nggak ngerti gue”
Ezi dan Estin yang mendengarnya pun hanya membalas deheman, yang semakin membuat Sara tambah kesal.
Suasana pun kembali hening, mereka kembali mengerjakan tugas yang diberikan oleh buk Ina. Sekitar dua puluh menit mereka gunakan untuk menjawab soal.
“Sudah kumpul semua ni?”teriak cakra ketua kelas
“Udah,”
Sekarang waktunya istirahat, tapi Ezi dan ketiga temannya tidak jajan melainkan bermain basket. Dalam permainan basket Ezi adalah kaptennya. Dengan lihainya Ezi Mendribell bola, dan hap bolanya pun masuk ke ring suara teriakan siswa-siswi pun menggema meneriaki pujaan hati mereka masing-masing. Mereka bermain selama 10 menit.Tapi di menit-menit terakhir tanpa sengaja,niat hati melempar bola ke ring malah bolanya oleng dan akhirnya terkena kepala siswi yang sedang jalan di pinggir lapangan.
Dug
”Aduhh,” ringis siswi tersebut memegangi kepalanya yang berdenyut. Ia dibantu berdiri oleh temannya. Saat ia mendongakkan kepalanya ternyata.
“Woi Ezi! lo bisa nggak sih main basket? sakit ni pala gue, kalau gue geger otak, anemia gimana mau tanggung jawab lo!” kesal siswi tersebut.
Ezi yang melihat dari kejauhan pun mulai mendekati siswi tersebut, saat sudah di depan siswi itu..
“Amnesia?” ralat Ezi.
“Iya itu maksudnya,” ucap siswi tersebut mencebikkan mulutnya kesal.
“Sorry saya nggak sengaja,” pinta Ezi.
“Iya gue maafin, untung nggak geger otak gue”, ucap Nasya.
Nasya dan Ezi satu kelas, Nasya itu bertugas sebagai bendahara yang bawelnya subhanallah, palagi terkait uang kas. Banyak siswa saat melihat Nasya mereka langsung kabur agar tidak mendengar suara emasnya Nasya. Tapi meskipun begitu kelas mereka termasuk kelas yang paling kompak diantara kelas yang lain.
“Ehh gue dengar-dengar dari guru ada kegiatan lomba antar sekolah,” ucap Awana sahabatnya Nasya.
“Lomba apa-apa aja? tanya Ezi.
“Ntah gue belum tau,” balas Awana.
“Ezi coba lo puisi pleaseee,” pinta Awana. Awana sangat menyukai puisi Ezi katanya sih puisinya menyentuh hati Jadi Awana sering minta ke Ezi untuk berpuisi. Ezi pun menurutinya. Awana dkk mendengarkan Ezi berpuisi mereka menjadi pendengar yang baik.
Ku Menunggu senja
Diam-diam menatapmu
Nelangsa pun menghampiri
Menunggumu datang
Arunika hadir membawa cerita
Lengkara bertahan
Asmaranala mu sungguh menakjubkan
Ku menunggu
hati nurani terus berkata
Dan langit menjadi saksi semuanya
Hadirmu hanya sementara
Tapi mengubah semuanya
Banyak yang terlewat kan
Setiap detik telah berlal
Dan banyak penyesalan pun berdatangan
Tanpa meminta permisi terlebih dahulu.
Angin yang berhembus dan burung yang berkicau menambah indahnya sang puitis Eziandra Sandyakala. Prokk….prokk… prok. Suasana pun riuh dengan suara tepuk tangan
“Zi bagus banget puisi lo!” seru Awana dengan heboh.
“Terima kasih,” ucap Ezi.
“Pengumuman diharapkan kepada semua siswa-siswi sma 1 nusantara untuk masuk ke kelas masing-masing, karena ada beberapa hal yang akan disampaikan oleh wali kelas kalian!”, seru kepala sekolah melalui pengeras suara.
Ezi dkk dan siswa-siswi yang lain pun langsung masuk ke kelas masing-masing.
“Assalamualaikum anak-anak,” sapa Bu Arum wali kelas Ezi.
“Waalaikumsalam bu,” balas mereka serempak.
“Jadi di sini ibu akan menyampaikan beberapa hal seperti yang diumumkan tadi. Jadi sekolah kita akan mengikuti kegiatan lomba antar sekolah,” jelas Bu Arum
“Lomba nya apa-apa aja bu?” tanya Ezi.
“Lombanya ada dua, bidang akademik dan non-akademik. Yang nonakademik ada basket, volly, futsal, badminton, lari 100 meter, panah dan renang. Sedangkan akademik ada debat bahasa Inggris dan Indonesia, rangking 1,literasi, tahfidz, story telling, drama, cipta puisi dan vocal solo”, jawab bu Arum panjang kali lebar kali tinggi.
“Ohhh, Bu itu diseleksi dulu?” tanya Nasya.
“Iya itu akan diseleksi dulu, jadi disini siapa yang mau mengikuti lomba-lomba yang ibu sebutkan tadi?” tanya Bu Arum.
“Ini kami bebas milihnya bu? bukan guru bidangnya yang milih?” tanya Sara.
“Bukan, sekolah kita kan udah sekolah merdeka, pasti kalian tidak mendengarkan penjelasan tentang sekolah merdeka saat masuk sekolah. Oke Ibu akan menjelaskan sedikit tentang sekolah merdeka agar kalian nggak bingung. Jadi, sekolah merdeka adalah sekolah yang menerapkan konsep merdeka belajar. Konsep merdeka belajar merupakan sebuah pendidikan yang berfokus pada asas kemerdekaan. Merdeka disini berarti memberi kebebasan bagi setiap manusia, baik para peserta didik maupun pengajar, memiliki kebebasan masing-masing untuk memilih,” jelas Bu Arum.
“Jadi kalian bisa memilih sesuai minat kalian!”
“Kalau gitu Sara mau basket,” seru Sara.
“Mau volly buk”
“Mau badminton buk”
“Mau debat bahasa Inggris buk”
“Vocal solo buk”
Kelas pun menjadi riuh dengan permintaan siswa-siswi. Bu Arum pun mendiamkan semuanya dengan memukul meja
Takkk
“Diam semuanya, iya sabar Ibu catat nama-nama siapa yang mau ikut,” Ibu Arum menghentikan perkataannya, “jadi kalian pahamkan apa yang dimaksud sekolah merdeka dan merdeka belajar?” tanya buk Arum.
“PAHAM BU!” jawab mereka serentak.
“Ezi ikut apa?” tanya Bu Arum.
“Kayak biasa Bu, basket, tahfidz sama cipta puisi,” jawab Ezi. Lomba yang Ezi sebutkan itu adalah lomba yang sering ia ikuti.
“Oh iya, Ibu lupa menyampaikan sama kalian bahwasanya sekolah kita kembali mengaktifkan kegiatan ekstrakurikuler yang sempat tertunda,” jelas Bu Arum.
Siswa-siswi yang mendengarnya pun medadak diam.
“Kapan mulai ekskulnya Bu?” tanya Awana.
“Kemungkinan minggu depan sudah dimulai ekskulnya, dan kalian bebas memilih kelas ekskulnya masing-masing,” jawab Bu Arum.
“Bebas milih Bu?” tanya Nasya.
“Lo denger nggak Bu Arum bilang tadi, masih aja lo tanya atau jangan-jangan lo tidur ya?” tuduh Sara yang sudah kesel sama Nasya karena kelemotan otaknya.
“Enak aja lo tuduh gue tidur,” sangkal Nasya yang tak mau dituduh oleh Sara.
“Udah, jadi ikut lomba atau ekstrakurikuler itu sesuai bakat dan minat siswa, itu namanya merdeka belajar, bebas untuk mendeskripsikan diri sendiri,” ucap Ezi menengahi perdebatan Sara dan Nasya.
“Itu yang dibilang sama Ezi udah benar, jadi kalian ingat aja merdeka berarti bebas memilih. Kalian pahami lagi apa itu sekolah merdeka dan merdeka belajar biar kalian paham jangan salah-salah lagi,” jelas Bu Arum
“Yaudah ibu pamit dulu, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pamit Bu Arum
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
“Pahami konsepnya, jangan salah lagi,” ucap Ezi mengingatkan kepada teman-temannya agar tidak lupa.
Itulah yang dimaksud dengan sekolah merdeka dan merdeka belajar.
Millatul Misyada
Siswa SMAN 2 Aceh Barat Daya
