Ya, itulah sebuah pertanyaan yang bikin aku jadi semakin galau. Saat itu aku benar-benar merasa down. Pertanyaan itu seolah-olah terus menghantui langkah dan pikiranku. Jujur, aku bingung ingin melanjutkan sekolah di mana.
Hai, Namaku Siti Markonah, biasa kerap disapa Siti atau Mar. Aku adalah salah satu siswi berprestasi di sekolah. Bagiku sekolah, perlombaan, dan prestasi merupakan tiga hal yang tak kan terlepas dari kehidupanku. Sedari aku duduk dibangku SD. Aku memang sangat senang mengikuti berbagai perlombaan di sekolah. Sampai detik sekarang pun perlombaan menjadi suatu hal begitu penting bagiku. Banyak prestasi yang sudah kuukir mulai dari jenjang sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional.
Sedikit cerita, bermula ketika diakhir tahun 2020 lalu saat aku masih di bangku kelas 3 SMP yang saat itu sedang sibuk memikirkan akan melanjutkan sekolah kemana. Setiap kali bertemu guru, teman, mereka selalu menanyakan satu pertanyaan yang sama.
“Eh, Mar nanti kamu mau lanjut sekolah di mana?”
Ya, itulah sebuah pertanyaan yang bikin aku jadi semakin galau. Saat itu aku benar-benar merasa down. Pertanyaan itu seolah-olah terus menghantui langkah dan pikiranku. Jujur, aku bingung ingin melanjutkan sekolah di mana. Awalnya aku sudah punya keinginan ingin bersekolah di luar daerah. Ini adalah salah satu bagian dari mimpi kecilku. Namun, orang tuaku tidak sependapat dengan aku. Mereka menyarankan untuk bersekolah di sebuah SMA di daerah tempat tinggalku. Sebuah sekolah di suatu desa pinggir sebuah lembah, namanya SMAN 9 Aceh Barat Daya.
Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang tidak begitu diminati dikalangan siswa-siswi di Aceh Barat Daya. Bahkan banyak stigma buruk masyarakat terhadap sekolah ini. Karena berada di ketinggian, SMAN 9 kerap dikenal dengan sebutan sekolah tertinggi di Kabupaten Aceh Barat Daya. Tak hanya itu, yang lebih uniknya lagi adalah sebutan sekolah jengkol. Hah sekolah jengkol? Ya, memang benar di sekitaran kawasan SMAN 9 ini dikelilingi dengan kebun jengkol milik warga sekitar. Tetapi apakah pantas sebutan tersebut untuk sebuah sekolah yang jelas merupakan tempat untuk menimba ilmu?
Hmm…. hanya sebatas itulah mindset tentang SMAN 9 di mata masyarakat. Bahkan tak heran, banyak siswa-siswi di kecamatan Lembah Sabil justru lebih senang untuk memilih sekolah di luar daerah yang sebenarnya mutu sekolahnya juga tidak jauh berbeda. Mereka bahkan merasa malu kalau memilih untuk bersekolah di SMAN 9 Aceh Barat Daya ini.
Sama halnya dengan aku yang masih belum yakin untuk melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut. Terlebih ketika aku mendengar komentar-komentar dari beberapa guru dan teman-teman yang semakin membuatku tidak yakin. Saat jam istirahat, aku sedang sendiri tiba-tiba aku dihampiri Rara
“Mar, kamu sendiri aja nih?” tanya Rara kepadaku.
“Hehe iya Ra,” jawabku sambil tersenyum.
Eh Mar, emang bener kamu mau lanjut sekolah di SMAN 9 itu?” tanya Rara penuh penasaran.
“Iya bener Ra, orang tuaku menyarankan aku untuk sekolah disana,” jawabku sambil menunduk malu.
“Hahaha, yang bener aja lah Mar, duh aku ga habis pikir deh. Harusnya tuh kamu sekolah di tempat favorit dong, eh ini malah pengen lanjutin ke sekolah yang ga jelas, udah gitu juga pasti disana banyak monyet hahaha,” kata Rara dengan penuh remeh.
“Iya Ra, aku juga maunya begitu, tapi bagaimana. Mau ga mau aku harus nurut,” jawabku dengan sedih dan kecewa.
Tak hanya Rara bahkan Bu Mumun yang merupakan guru favorit ku pun juga meremehkan pilihan ku tersebut. Suatu hari ketika di sekolah, aku dipanggil Bu Mumun untuk menemuinya di depan mushola sekolah.
“Ada apa ibu memanggil Markonah kemari?” tanyaku dengan heran.
“Iya, begini Mar, kan kamu sudah mau lulus nih, Ibu mau menginformasikan bahwa ada beberapa undangan untuk lanjut ke SMA favorit melalui jalur prestasi. Kalo kamu berminat nanti akan Ibu bantu untuk pengurusan berkas-berkasnya Nak. Kira-kira kamu mau lanjut ke sekolah mana Mar?”
“Sebelumnya Terima kasih banyak atas tawaran dan informasinya. Mar minta maaf banget Bu Mar sepertinya ga milih lanjut ke sekolah favorit deh Bu, orang tua menyarankan untuk sekolah di SMAN 9 Aceh Barat Daya,” jawabku.
“Kamu serius Nak? Masa iya kamu mau jadi ikan besar di kolam yang kecil. Seharusnya kamu bisa menjadi ikan kecil di kolam yang besar. Cobalah Mar kamu sekolah ke SMA yang favorit, pasti itu akan membuat kamu semakin berkembang untuk kedepannya. Jangan mau sekolah di tempat yang biasa-biasa saja, nanti kamu menyesal loh,” begitulah kata Bu Mumun.
“Aku sebenarnya sepemikiran dengan Rara dan Bu Mumun. Namun, pendapat orang tuaku juga sangat benar. Alasan mengapa orang tuaku menyarankan aku sekolah di sana agar aku dapat menanamkan rasa cinta terhadap daerah sendiri, salah satunya dengan cara ikut serta memajukan sekolah-sekolah yang ada di daerah kita,”
Ya, terdengar sederhana namun itu akan sangat berarti jika aku mampu untuk merealisasikannya. Orang tuaku juga bilang bahwa anak-anak di Lembah Sabil memiliki bakat dan potensi yang luar biasa. Hanya saja ketika mereka memilih sekolah di luar daerah maka mereka akan mengharumkan nama sekolah tersebut, bukan nama daerah asalnya. Hari demi hari terus kulewati yang tentunya aku akan segera lulus dari bangku SMP.
“Mar, kita ga bisa mengontrol apa yang akan orang lain katakan tentang kita. Tapi kita bisa mengontrol respon kita sendiri atas apa yang orang lain katakan. Kalau kritiknya membangun, ambil poin positifnya. Tapi kalau justru bersifat destruktif, masa bodo dengan hal itu. Jangan biarin hujatan orang lain merusak kebahagiaan kita. Nggak semua kritik harus ditanggepin, nak!” Itulah pesan ibuku yang selalu menjadi energi kekuatanku.
Setelah merenungi kembali pendapat orang tuaku, aku pun akhirnya memutuskan untuk menyetujui saran orang tuaku. Meskipun dengan hati yang berat untuk melakukannya, namun aku terus berusaha agar tidak merasa terpaksa. Karena sejatinya sesuatu yang dilakukan dengan paksaan tidak akan membuahkan hasil. Kuawali semuanya dengan niat yang baik, dan keinginan untuk melakukan suatu perubahan yang hebat. Kehadiran rasa kecewa itu pasti ada, tapi perlahan aku mulai menanamkan mindset bahwa perubahan itu muncul dari para generasi penerus bangsa. Alangkah hebatnya kita sebagai generasi penerus bangsa menanamkan cinta terhadap daerah. Apa salahnya jika kita ikut berperan untuk memajukan sekolah yang ada di daerah kita? Tidak ada hal yang dirugikan, bukan? Meskipun sepertinya memang sedikit sulit untuk merubah stigma buruk tersebut. Namun, kalau kita tidak pernah berani untuk mencoba mewujudkannya, lantas bagaimana kita akan mengetahui hasilnya?
Di awal tahun 2021 setelah orang tuaku mendaftarkan aku di sekolah tersebut, aku pun akhirnya dinyatakan lulus sebagai siswa baru. Di suatu pagi senin, setelah melaksanakan upacara bendera, semua siswa-siswi baru diarahkan untuk berkumpul di ruangan aula sekolah. Karena seperti biasanya, akan ada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Siswa baru (MPLS). Di saat itu pula kepala sekolah menyampaikan bahwa SMAN 9 Aceh Barat Daya adalah salah satu sekolah penggerak yang menerapkan kurikulum merdeka belajar di Indonesia.
“Nah, anak-anak kalian sudah tau belum? Sekolah kita ini merupakan salah satu sekolah merdeka dari 2.500 sekolah merdeka yang ada di Indonesia,” ucap kepala sekolah.
“Pak, sekolah merdeka itu sekolah yang bagaimana?” tanya Risma teman yang duduk di kursi sebelahku.
”Ya! Sebuah pertanyaan yang bagus Nak. Sebelum Bapak menjelaskannya ada yang sudah tau apa itu yang dimaksud dengan sekolah merdeka?” tanya kepala sekolah.
Semua murid yang ada di ruangan aula tersebut hanya terdiam. Kepala sekolah pun kemudian menjelaskannya.
“Sekolah merdeka adalah sekolah yang menerapkan kurikulum merdeka adalah metode pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Para pelajar dapat memilih pelajaran apa saja yang ingin dipelajari sesuai passion yang dimilikinya.”
“Terus tujuan nya itu untuk apa pak?” tanyaku.
“Tujuan kurikulum merdeka yang pertama, yaitu menciptakan pendidikan yang menyenangkan bagi peserta didik dan guru. Kurikulum ini menekankan pendidikan Indonesia pada pengembangan aspek keterampilan dan karakter sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Tujuan kurikulum merdeka selanjutnya, yaitu mengembangkan potensi peserta didik. Kurikulum ini dibuat sederhana dan fleksibel sehingga pembelajaran akan lebih mendalam. Selain itu, kurikulum merdeka juga berfokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Kurikulum ini untuk menguatkan pencapaian Profil Pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.”
“Hah? Profil Pelajar Pancasila, maksudnya pancasila yang dibacakan setiap upacara hari senin itu, Pak?” tanyaku lagi dengan penasaran.
”Hmmm, jadi Profil Pelajar Pancasila merupakan sejumlah ciri karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik, yang didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila. Profil pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif,” jelas kepala sekolah.
”Itu artinya setiap pelajar dapat mengeksplor kembali diri mereka masing-masing untuk menemukan apa yang mereka sukai, apa yang mereka ingin kembangkan lebih lagi, apa yang mereka ingin buat atau ciptakan sesuai dengan minat dan bakat mereka, begitu ya Pak?” tanyaku kembali.
“Iya, tepat sekali Nak,” ucap kepala sekolah.
Aku kagum ketika mendengar penjelasan dari kepala sekolah tersebut. Ketika mengetahui keistimewaan itu, membuatku semakin yakin bahwa pilihan ku memang sudah tepat. Segala keraguan yang ada di benak ku satu per satu mulai menghilang. Suatu hari, aku bersama teman-teman lainnya duduk di bawah pohon yang rindang, kami mendiskusikan tentang pandangan orang-orang tentang SMAN 9 ini.
“Eh, Guys! Aku bingung deh kenapa orang-orang beranggapan kalau sekolah kita ini kayak ga penting gitu. Padahalkan sekolah kita sama saja dengan sekolah yang lainnya,” kata Dewi.
“Nah iya tuh, ga cuma orang dewasa loh. Bahkan generasi muda lainnya pun percaya aja dengan pandangan yang seperti itu, heran deh!” sahut Resi.
“Aku setuju banget sih dengan pendapat kalian. Tapi jujur nih ya, dulunya aku juga punya mindset kayak gitu loh guys. Tapi setelah aku coba pelajari lagi ternyata aku baru sadar bahwa mindset aku selama ini salah hehe,” tambahku.
“Aduh Mar…, kamu tuh ya mau aja percaya sama mindset yang begituan,” sahut Rani.
“Ya kan itu dulu hehe. Nah kan kita adalah pelajar pancasila, jadi kita harus bernalar kritis dong terhadap hal-hal yang belum pasti kebenarannya, sekecil apapun hal tersebut,” ucapku.
”Betul betul betul! Dengan bernalar kritis kita juga dapat belajar menganalisis atas suatu informasi sehingga kita bisa menemukan akar masalah yang terjadi,” sahut Dewi lagi.
“Yoi! Bernalar kritis juga membuat kita lebih mudah dalam menjabarkan pendapat dari orang lain dan tidak mudah percaya begitu saja. Saat kita tahu persepsi dari orang lain tersebut salah, kita bisa mencari kebenarannya. Hal ini tentunya akan meminimalkan salah persepsi. Sekarang juga banyak hoax yang beredar di medsos. Kita juga harus lebih selektif dalam bermain gadget dong,” tambah Resi.
Kami pun mengakhiri diskusi tersebut dan kembali ke kelas. Singkat cerita, 3 bulan setelah aku mulai jadi seorang siswi SMA. September 2021 lalu aku terpilih sebagai perwakilan kabupaten untuk mengikuti seleksi Kawah Kepemimpinan Pelajar (KKP) tingkat provinsi Aceh. Saat itu aku pun mengikuti rangkaian kegiatan. Mulai dari karantina, bertemu teman baru, diskusi bareng teman-teman se-Aceh yang tentunya pada keren semua. Aku awalnya tidak yakin bisa bersaing dengan mereka dengan keterbatasan ilmu ku. Apalagi mereka yang rata-rata berasal dari sekolah unggul, membuat aku semakin tidak percaya diri. Meskipun begitu, hati kecilku bertekad besar untuk membuktikan bahwa aku juga pasti bisa.
Ketika ada sesi sharing, aku memberanikan diri untuk membagikan cerita ini kepada mereka. Speechless! Mereka ternyata termotivasi dengan cerita aku dan sekolahku. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut, syukur Alhamdulillah aku berhasil menjadi peserta juara satu terbaik. Huh! Sungguh ini seperti mimpi. Kepulanganku sebagai juara disambut meriah oleh Pemerintah Cabang Dinas Pendidikan Aceh Barat Daya. Kabar gembira ini sempat menghebohkan kalangan siswa-siswi di Aceh Barat Daya. Di sini aku sangat bersyukur berhasil mendapatkan hasil yang terbaik.
Lagi dan lagi, hal ini pun membuat aku semakin percaya bahwa benar kata orang, bukan sekolah besar yang membuat nama kita menjadi besar, tapi kitalah yang membuat nama sekolah menjadi besar. Biarlah seekor ikan besar berada di kolam yang kecil selagi ia mampu menebarkan energi positif untuk lingkungan sekitar karena hidup bukan perihal kompetisi. Sejatinya setiap orang punya track hidupnya masing-masing. Berada di sebuah sekolah kecil pun tak mengapa. Sebagai seorang pelajar yang memiliki Profil Pelajar Pancasila harus mampu berkembang untuk lebih baik lagi tentunya harus diiringi dengan bernalar kritis. Perlu kita sadari setiap orang melakukan perubahan dengan berbagai jalan. Terkadang juga perubahan terjadi karena terpaksa, perubahan karena dipaksa oleh keadaan, dan perubahan yang terbaik dimulai dari diri sendiri.
Siti Nabila
Siswi SMAN 9 Aceh Barat Daya
