Desa Wisata Lubuk Sukon sering dijadikan lokasi pengambilan gambar dan syuting untuk film-film dokumenter dan komersil. Tercatat seperti Farah Queen dan Serial Si Bolang pernah melakukan syuting bahkan broadcast dari Malaysia dan NOS TV Netherland, juga memilih Gampong Lubuk Sukon.
Matahari belum bersinar penuh, lalu-lalang kendaraan bermotor di jalan Banda Aceh-Medan berlangsung normal. Begitu pun dengan aktivitas warga di Simpang Lambaro terlihat tidak ada bedanya dari hari-hari biasa. Jarum jam menunjukkan angka 10 dan jarum panjang tepat berada pada angka lima. Kala itu, penulis menyempatkan diri berkunjung ke lokasi wisata, tepatnya Desa Lubuk Sukon. Desa/gampong Lubuk Sukon ini dipilih sebagai desa wisata dengan kriteria asri, landskap, unik, dan indah pada Juli s.d. Agustus 2012 silam oleh Disbudpar Provinsi Aceh.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di Desa Lubuk Sukon. Perjalanan yang kita tempuh berlangsung singkat, yakni hanya menguras waktu selama lima menit. Dengan melewati jalan Banda Aceh – Medan, sebuah papan penunjuk arah bertuliskan Desa Wisata Lubuk Sukon siap mengarahkan kita lokasi wisata. Selanjutnya, melewati jembatan dengan panjang 200 M, kita sudah berada tepat di bawah gapura bertuliskan selamat datang di desa wisata Lubuk Sukon.
Perjalanan pun tidak berhenti di situ. Keramahtamahan para warga di Gampong Lubuk Sukon siap menuntun kita ke objek wisata. “Di mana lokasi wisatanya?”, tanya penulis kepada warga. “Silakan belok kanan, di sana ada rumah adat Aceh (rumoh Aceh), kami di sini juga ada duta wisata serta siap mengarahkan Anda,” ucap sang warga. Penulis pun meminta nomor handpone duta wisata tersebut untuk menemani perjalanan wisata sejarah di Lubuk Sukon. Penulis pun menyempatkan diri mengelilingi gampong di Kecamatan Ingin Jaya ini.
Puluhan rumah adat Aceh yang usianya terbilang puluhan tahun membawa ingatan para wisatawan di Lubuk Sukon kembali ke Aceh pada zaman dahulu. Penulis menyempatkan diri untuk memasuki ke dalam rumah adat Aceh ini. Di luar dugaan, ternyata di rumah adat tersebut juga menyimpan benda-benda kuno bersejarah di antaranya, guci, tembikar, dan elemen-elemen pendukung kegiatan sehari-hari masyarakat desa.
Sambil berbincang-bincang dengan duta wisata Lubuk Sukon, Darzam, S.P., ia menjelaskan bahwa banyak peralatan tradisional yang telah digantikan fungsinya oleh peralatan pabrikan dan elektrik. Hal ini karena Gampong Lubuk Sukon termasuk desa yang cepat mendapatkan perkembangan pembangunan dari pemerintah sejak tahun 1970-an.
“Rumoh Aceh yang ada di Gampong Lubuk Sukon berjumlah 40 unit, di mana semuanya ditempati sebagai rumah hunian. Memang banyak Rumoh Aceh yang telah dimodifikasi seiring perkembangan jaman dan kebutuhan akan ruang. Akan tetapi, bentuk asli dari rumoh Aceh masih terlihat apik dan terpelihara walaupun usia bangunan telah ditempai oleh 3 sampai 4 generasi.” Jelasnya.
Objek wisata di Gampong Lubuk Sukon tidak sebatas rumah adat Aceh melainkan Gampong Lubuk Sukon menjadi lokasi kuliner baik para wisatawan lokal maupun mancanegara. Alasannya, cara penyajian, pelayanan, dan lokasi menjadi daya tarik yang sulit dilupakan oleh wisatawan.
“Bahkan, menteri Pemberdayaan Perempuan RI, Prof. DR. Yohana Susana Yembise menyanjung penyambutan yang diterimanya (27/4/2015) ketika dijamu makan siang di sebuah rumoh Aceh. Menu masakan dapat dipesan melalui Ibu Kechik atau saya (Darzam-red) dengan beragam pilihan menu sesuai dengan keinginan dan keuangan. Wisatawan mancanegara yang berkunjung dan mengadakan jamuan makan siang berasal dari Jepang, Malaysia, Negara-negara ASEAN dan Eropa,” ungkap Darzam.
Lantas, apalagi yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Lubuk Sukon? Menurut, Darzam, Gampong Lubuk Sukon telah tertata dari segi RTRW dan kehidupan masyarakat yang relatif masih menjunjung adat budaya. Termasuk lokasi desa yang mudah dijangkau dan memiliki fasilitas-fasilitas pemerintah yang keberadaannya memberikan kemudahan dan kesempatan bagi masyarakat sekitar.
“Desa Wisata Lubuk Sukon sering dijadikan lokasi pengambilan gambar dan syuting untuk film-film dokumenter dan komersil. Tercatat seperti Farah Queen dan Serial Si Bolang pernah melakukan syuting. Bahkan, broadcast dari Malaysia dan NOS TV Netherland juga memilih Gampong Lubuk Sukon sebagai Lokasi syuting mereka, apalagi untuk station TV lokal dan nasional.”
Selain itu, Darzam menambahkan ketersediaan view yang menarik, dukungan masyarakat, serta faktor kenyamanan dan keamanan, alasan yang kesekian untuk mengunjungi Gampong Lubuk Sukon. Gampong Lubuk Sukon juga sering dijadikan objek penelitian baik peneliti yang berasal dari Aceh maupun di pulau Jawa.
“Peneliti dari IPB dan ITB melaukan studi tentang agrowisata dan arsitektur Rumoh Aceh, mahasiswa S1 dan pascasarjana melakukan penelitian tugas akhir tentang pola pemerintahan gampong dan adat budaya,” ungkap sarjana pertanian ini.
Tertarik untuk mengunjungi Gampong Lubuk Sukon, tunggu apalagi? Ada beragam destinasi yang dapat diperoleh di sana serta tidak menguras rupiah yang besar.
