Oleh Rahmad Nuthihar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V versi dalam jaringan (daring) terdapat 10 sublema dari lema utama telepon. Salah satu sublemanya saya angkat sebagai judul tulisan ini. Makna dari telepon cerdas yang terdapat dalam KBBI adalah telepon seluler yang memiliki fungsi-fungsi seperti dalam komputer pribadi, biasanya diberi tambahan fitur tertentu seperti layar sentuh, akses internet nirkabel. Telepon cerdas ini sendiri merupakan terjemahan dari bahasa Inggris smartphone yang kemudian diserap dalam KBBI menjadi telepon cerdas.
Berangkat dari etimologi di tersebut, ada beberapa fenomena yang unik terkait pemakaian telepon cerdas. Dalam beberapa kesempatan mengajar bahasa Indonesia di beberapa perguruan tinggi di Banda Aceh, saya kerap menegur mahasiswa yang kedapatan bermain telepon cerdas pada saat berlangsungnya proses perkuliahan. Wajar saja teguran tersebut saya layangkan kepada mahasiswa untuk menciptakan suasana perkuliahan yang ideal.
Penggunaan telepon cerdas bagi mahasiswa sepertinya telah menjadi ujung tombak kesuksesan mereka dalam meraih gelar sarjana. Telepon cerdas telah menggantikan posisi guru nyata menjadi guru personal baginya. Dengan mengetik kata kunci di mesin peramban semua materi yang ingin dicari akan diperoleh dalam hitungan detik. Selain itu, penggunaan telepon cerdas juga telah menggantikan posisi buku cetak. Imbasnya, karena kemudahan tersebut pengguna telepon cerdas menjadi malas dan menganggap semuanya menjadi mudah.
Telepon cerdas pada hakikatnya diciptakan untuk memudahkan penggunanya, seperti membaca pos-el, berbagi gambar, dan berbagai kegiatan lainnya yang semula hanya dapat dilakukan melalui komputer dengan akses internet, bukan menggantikan barang ataupun jasa dalam kehidupan nyata. Ditinjau segi kesehatan, pemakaian telepon cerdas juga berdampak buruk. Matthew et al (2016) melakukan penelitian dengan melibatkan 653 partisipan pada usia >18 tahun. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa intensitas paling tinggi pemakaian telepon cerdas dilakukan oleh penggunanya pada malam hari sehingga berdampak negatif terhadap kualitas tidur.
Dari segi biaya, pemakaian telepon cerdas menguras banyak biaya terutama untuk data internet. Sehingga sangat disayangkan bagi pemakai telepon cerdas menghabiskan biaya untuk sekadar terhubung dengan media sosial. Apabila dibandingkan dengan harga buku cetak, 1Gb data internet dapat digunakan untuk membeli buku perkuliahan dan berbagai kebutuhan lainnya. Dengan perkataan lain, jika kuliah tidak membeli buku referensi tetapi untuk telepon cerdasnya selalu memiliki data internet.
Setelah ada Telepon Cerdas
Masih membekas di ingatan saya ketika Sekolah Dasar tahun 90-an, dekak-dekak merupakan alat bantu hitung yang sangat bermanfaat waktu itu. Begitu juga buku diari yang saban hari dipakai untuk mengisi keluh-kesah dalam kehidupan sehari-hari. Dampak dari penggunaan alat bantu tersebut sangatlah signifikan di antaranya dapat membayangkan bagaimana proses penjumlah ketika dekak-dekak tersebut digeser. Begitu juga adanya coretan pada buku diari membantu mengembangkan kreativitas penulis. Akan tetapi, kehadiran telepon cerdas telah merenggut semuanya. Fitur kalkulator telah membuat siswa menjadi malas untuk belajar berhitung ataupun kehadiran media sosial seperti Instagram hanya sekedar membagikan gambar.
Ketika telepon cerdas ini belum ada, mahasiswa akan giat membekali diri dengan berbagai persiapan saat mengikuti ujian. Persiapan tersebut di antaranya mulai dari membaca buku dan bahkan membuat kertas salinan. Ditinjau dari satu sisi hal ini dapat ditoleransi mengingat ada inisiatif dari mereka untuk berusaha. Perpustakaan selalu ramai dikunjungi untuk mencari rujukan guna mengerjakan tugas perkuliahan. Akan tetapi, saat ini mahasiswa cenderung mengandalkan telepon cerdasnya untuk dalam segala hal. Ketika mau ujian, mahasiswa tidak lagi sibuk belajar tinggal mengetik di Google berkaitan dengan soal yang diujiankan tinggal mereka berusaha tidak ketahuan. Begitu juga halnya dengan perpustakaan tidak lagi menjadi tempat yang strategis untuk mengerjakan tugas, tetapi beralih ke warung kopi. Apabila tidak terhubung dengan akses internet tinggal menghidupkan hotspot yang terdapat pada telepon cerdas agar laptopnya terhubung dengan internet.
Solusi
Ada beberapa solusi yang dapat diandalkan untuk meminimalisasi penggunaan telepon cerdas di kalangan mahasiswa. Pertama, setiap tugas yang diberikan kepada mahasiswa harus ditulis tangan. Apabila tugas tersebut diketik menggunakan komputer ada kecenderungan tugas tersebut sekedar copy-paste. Dengan pemberian tugas yang ditulis tangan secara tidak sengaja mahasiswa terpaksa membaca kembali berkaitan dengan tugas tersebut.
Kedua, ruang kuliah dilengkapi dengan alat mematikan sinyal HP ataupun disebut dengan phone jammer. Dalam film Transcendence, Johnny Depp merasa sangat senang berada di kebun yang terdapat di belakang rumahnya karena di atap kebunnya itu telah dilengkapi dengan alat pemati sinyal elektromagnetik. Dengan adanya alat itu, Johnny Depp merasa tidak terganggu dengan radiasi dan kesibukannya dengan berbagai perangkat elektronik yang terhubung dengan internet. Hal ini dirasa sangat cocok diterapkan di perguruan tinggi agar mahasiswa ataupun dosen tidak lagi terganggu dengan suara panggilan telepon masuk dan aktivitas yang menggunakan telepon cerdas. Dengan adanya hal ini, kenyamanan saat perkuliahan sangat terjamin.
Ketiga, membuat loker tempat penyimpanan telepon cerdas dan barang berharga di setiap kelas. Sebenarnya cara ketiga ini tidak perlu diterapkan apabila ada kesadaran sendiri dari mahasiswa. Akan tetapi, pada kenyataannya ada beberapa di antaranya yang tidak memperdulikan dan tetap memakai telepon cerdas di dalam kelas untuk sekadar berbalas obrolan di BBM, WA, Instagram, dll. Imbasnya, jika semula teman di sebelahnya serius dalam mengikuti perkuliahan menjadi terpengaruh memakai telepon cerdas di dalam kelas karena temannya. Kita berharap generasi muda di Aceh tidak dikenal dengan generasi ‘menunduk’ yang sibuk mengerakkan jemarinya di atas layar kaca. Ibarat peribahasa dalam bahasa Aceh meunabsu keucarong tajak bak guru, meunabsu keumalem tajak bak teungku artinya, ingin pandai pergi berguru, ingin alim pergi ke ulama. Nah, melihat permasalahan ini, manusia atau teleponkah yang cerdas?
